Showing posts with label Mental Retarded. Show all posts
Showing posts with label Mental Retarded. Show all posts

Friday, 28 May 2010

penyebab keterbelakangan mental

Tingkat kecerdasan ditentukan oleh faktor keturunan dan lingkungan.
Pada sebagian besar kasus RM, penyebabnya tidak diketahui; hanya 25% kasus yang memiliki penyebab yang spesifik.
Secara kasar, penyebab RM dibagi menjadi beberapa kelompok:
1. Trauma (sebelum dan sesudah lahir)
- Perdarahan intrakranial sebelum atau sesudah lahir
- Cedera hipoksia (kekurangan oksigen), sebelum, selama atau sesudah lahir
- Cedera kepala yang berat
2. Infeksi (bawaan dan sesudah lahir)
- Rubella kongenitalis
- Meningitis
- Infeksi sitomegalovirus bawaan
- Ensefalitis
- Toksoplasmosis kongenitalis
- Listeriosis
- Infeksi HIV
3. Kelainan kromosom
- Kesalahan pada jumlah kromosom (Sindroma Down)
- Defek pada kromosom (sindroma X yang rapuh, sindroma Angelman, sindroma Prader-Willi)
- Translokasi kromosom dan sindroma cri du chat
4. Kelainan genetik dan kelainan metabolik yang diturunkan
- Galaktosemia
- Penyakit Tay-Sachs
- Fenilketonuria
- Sindroma Hunter
- Sindroma Hurler
- Sindroma Sanfilippo
- Leukodistrofi metakromatik
- Adrenoleukodistrofi
- Sindroma Lesch-Nyhan
- Sindroma Rett
- Sklerosis tuberosa
5. Metabolik
- Sindroma Reye
- Dehidrasi hipernatremik
- Hipotiroid kongenital
- Hipoglikemia (diabetes melitus yang tidak terkontrol dengan baik)
6. Keracunan
- Pemakaian alkohol, kokain, amfetamin dan obat lainnya pada ibu hamil
- Keracunan metilmerkuri
- Keracunan timah hitam
7. Gizi
- Kwashiorkor
- Marasmus
- Malnutrisi
8. Lingkungan
- Kemiskinan
- Status ekonomi rendah
- Sindroma deprivasi.
sumber : http://medicastore.com/penyakit/927/Keterbelakangan_Mental.html

Ditinggal Ortu Kerja Hingga Keterbelakangan Mental

Rabu, 25 Maret 2009 09:56:00 WIB
Reporter : Abdul Qohar

Bojonegoro – Bagi anda orang tua (ortu) yang mempunyai anak gadis di bawah umur, waspadalah. Sebab, kebanyakan korban pencabulan dan pelecehan seksual adalah mereka yang ditinggal kerja ortunya.

Data tersebut seperti yang tercatat di Pusat Pelayanan Perempuan dan Anak (P3A) Bojonegoro. Seperti tahun 2008 yang terdapat sekitar 56 kasus, hampir 60 persen adalah mereka yang ditinggal ortunya bekerja, baik di luar negeri maupun luar kota.

Tengok saja, dua kasus yang terjdai di Bojonegoro seminggu belakangan ini. Informasi yang dihimpun beritajatim.com menyebutkan, kasus pertama yang terjadi di Kecamatan Baureno dengan korban ER (17) siswi kelas II SMA. Belakangan diketahui orang tuanya bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

Begitupula korban kasus kedua yang baru dua hari lalu dilaporkan ke Mapolres Bojonegoro. Korban WS (14) siswi MTs asal Kecamatan Dander, Bojonegoro, telah lama ditinggal kedua orang tuanya mencari ringgit dan riyal ke luar negeri. Ia hanya ikut bersama pamannya yang bernama Hanif.

Ayahnya Arf saat ini masih bekerja sebagai TKI di Malaysia dan ibunya Qrh hingga kini masih berada di Arab Saudi untuk mengumpulkan riyal.

Devisi Pendampingan P3A Bojonegoro, Ummu Hanik membenarkan hal tersebut. Rata-rata para korban yang ditinggal ortunya bekerja kurang curahan kasih sayang.

“Sehingga, saat ada orang lain memberi perhatian khsusu, biaya ia langsung tertarik,” katanya.

Oleh karena itu, ia meminta para orang tua terus menerus memperhatikan kasih sayang kepada anaknya, terutama anak wanita yang masih belia.

“Selain orang tuanya bekerja, banyak juga pencabulan karena pendidikan orang tua yang kurang memadai,” sambungnya.

Kasus dengan korban terbesar kedua setelah faktor orang tuanya bekerja adalah anak-anak yang mempunyai keterbelakangan mental.

Kalau diprosentase jumlah sekitar 25 hingga 35 persen. Bahkan, ada korban yang beberapa kali telah dilecehkan seksual, dan itu yang menjadi perhatian masyarakat umum.

“Masak ada pelaku pelecehan seksual pertama yang masih diproses secara hukum, korban telah dicelehkan kembali,” tegas anggota P3A lainnya dari Devisi Advokasi Agus S.(dul/eda)
http://www.beritajatim.com/detailnews.php/4/Hukum_&_Kriminal/2009-03-25/30623/Ditinggal_Ortu_Kerja_Hingga_Keterbelakangan_Mental

Thursday, 27 May 2010

Penyebab Gangguan genetik

Akibat gangguan genetik
Fenilketonuria adalah penyakit metabolik bawaan yang disebabkan kurangnya enzim fenilalanin hidroksilase. Penyakit ini merupakan penyakit bawaan yang cukup sering terjadi antara 1 dari 4.500 kelahiran di Irlandia sampai 1 dari 100.000 kelahiran di Finland. Di Amerika Serikat penyakit ini terjadi pada 1 dari 10.000 kelahiran bayi, sedangkan di Indonesia sendiri datanya masih belum jelas.

Dalam fungsinya sehari-hari, enzim fenilalanin hidroksilase akan mengubah asam amino fenilalanin menjadi tirosin. Bila enzim tersebut tidak ada atau tidak berfungsi, tentu saja reaksi perubahan tersebut tidak akan terjadi. Akibatnya, kadar fenilalanin dalam tubuh akan meningkat jauh di atas normal, dan kadar tirosin tentunya menjadi di bawah normal. Kadar fenilalanin yang tinggi inilah yang menjadi biang keladi persoalan sehingga aspartam harus menanggung beban tanda peringatan.

Kadar fenilalanin yang tinggi dalam darah dapat membahayakan perkembangan otak anak. Akibatnya, anak dapat mengalami retardasi mental. Memang sejarah penemuan fenilketonuria pun diawali dengan penelitian pada anak yang mengalami retardasi mental tersebut
http://zaharani.multiply.com/journal/item/8/Fenilketonuria_Gangguan_Genetik_penyebab_Retardasi_Mental

Deteksi Terhadap Anak-Anak Penderita Retardasi Mental Dengan Melakukan Analisa Pada Ekspresi Wajah

Dewasa ini anak-anak penderita retardasi mental mulai dapat dideteksi
semenjak usia 3-4 tahun atau sesudah dilakukan evaluasi dengan test
Kecerdasan Intelektual (IQ). Adapun test IQ yang ada saat ini hanya
diperuntukkan bagi anak yang berusia di atas usia 3 tahun. Sampai
sekarang belum ditemukan metode pengukuran IQ bagi anak-anak berusia di
bawah 3 tahun. Jika anak-anak penderita retardasi mental dapat
dideteksi sebelum berusia 3 tahun, rehabilitasi dapat dilakukan sedini
mungkin sebelum otak berkembang sempurna Sehingga kemungkinan untuk
pulih akan semakin besar dan kemampuan anakpun akan dapat ditingkatkan.
Riset ini bertujuan mendeteksi anak-anak penderita retardasi mental
pada usia 6 hingga 12 bulan dengan menganalisa ekspresi wajah mereka
setelah diperlihatkan foto-foto tertentu. Metode dilakukan dengan
menganalisa pada ekspresi wajah anak-anak, lalu mengkategorikan
anak-anak yang memiliki otak yang dapat bereaksi normal dan anak-anak
yang memiliki masalah dalam menangkap informasi tertentu yang datang ke
otak. Juga dilakukan evaluasi terhadap efektifitas otak anak dengan
menghitung waktu respon yang timbul setelah anak melihat gambar-gambar
foto tertentu. Semakin pendek waktu respon yang timbul semakin cepat
kerja otak dalam mengolah informasi yang masuk. Sebaliknya semakin
panjang waktu respon yang ada terdapat kemungkinan otak mempunyai
masalah dalam mengolah suatu informasi.
Sebagai obyek, 20 orang anak-anak Jepang yang terdiri dari 10 anak-anak
laki-laki dan 10 anak-anak perempuan. Usia berkisar antara 6 bulan
hingga 12 bulan. Gambar Foto Wajah dipilih 12 gambar foto wajah
tertentu yang berukuran 512 x 512 pixel. Ke-12 gambar foto tersebut
terdiri dari 4 foto dari ibu anak (Mother), 4 foto dari wanita yang
tidak dikenal anak (Unknown Woman), dan 4 foto lagi dari gabungan
(Combination) wajah ibu dan wanita yang tidak dikenal anak tersebut.
Kategori ekspresi wajah terdiri dari kategori positif yaitu wajah tanpa
ekspresi (expressionless) dan wajah dengan ekspresi senang (Smile
Face). Adapun kategori negatif adalah wajah dengan ekspresi marah
(Anger Face) dan wajah dengan ekspresi terkejut (Surprise Face). Metode
Percobaan yang dilakukan adalah Pertama, mendudukan obyek pada pangkuan
ibunya yang duduk di depan layar monitor. Kemudian kami tampilkan
gambar feedback dari obyek (feedback image) agar obyek dapat memusatkan
perhatiannya pada layar monitor. Setelah perhatian obyek terpusat pada
layar monitor, kami akan menampilkan foto wajah (Face Picture Image)
selama 3 detik. Setelah foto wajah hilang dari layar monitor kembali
akan tampak gambar feedback dari obyek(Feedback Image). Percobaan ini
diulang selama 24 kali.
Selama percobaan berlangsung obyek terus di rekam dengan menggunakan
kamera video yang mana rekaman ini akan digunakan pada proses analisa.
Pada percobaan ini dilakukan 2 analisa sebagai berikut:
Analisa pada ekspresi wajah berdasarkan pada gerakan dasar otot wajah
(aksi satuan unit) dengan sintesis pada gerakan yang timbul di alis,
mata, pipi dan mulut. Analisa pada perhitungan waktu yang timbul sejak
melihat gambar hingga timbul perubahan ekspresi pada wajah ( waktu
respon).
Dari hasil analisa yang pertama, dapat di dikategorikan dan dipisahkan
anak-anak yang memiliki otak yang dapat bekerja dengan normal dengan
anak-anak yang memiliki masalah dalam mengamati ekspresi wajah
seseorang. Data-data yang ada pada analisa ini menunjukkan bahwa dengan
memperlihatkan gambar foto wajah yang bermacam-macam dan juga yang
memiliki ekspresi wajah yang berlainan ekspresi yang timbul pada wajah
anak juga berlainan. Kemudian dari analisa yang kedua, dapat dievaluasi
efektifitas dari otak dengan melakukan pengukuran pada waktu respon.
Yang mana semakin pendek waktu respon menunjukkan semakin baik otak
bekerja dalam menerima informasi. Adapun panjangnya waktu respon ini
juga dipengaruhi oleh macam gambar foto dan bentuk ekspresi wajah yang
dilihat. Dari hasil risetini disimpulkan bahwa anak-anak mudah
menangkap pesan atau informasi yang tersirat pada wajah dari sumber
yang mereka kenal seperti dari ibu mereka dibandingkan dari sumber yang
asing bagi mereka. Juga disimpulkan bahwa perbedaan jenis kelamin dan
umur juga mempengaruhi ekspresi wajah yang muncul dan juga waktu
respon. Berdasarkan hasil riset ini. disarankan agar aksi satuan unit
pada gerakan dasar otot wajahdan waktu respon dapat dipakai sebagai
acuan pengukuran semacam parameter pada test IQ yang dapat digunakan
untuk mengukur tingkat kecerdasan intelektual anak. Akhirnya, dengan
menginstal acuan pengukuran pada jaringan komputer diharapkan agar
setiap ibu memiliki kesempatan untuk mengukur tingkat kecerdasan
intelektual dari anak-anak mereka.
http://www.shvoong.com/exact-sciences/biology/1637196-deteksi-terhadap-anak-anak-penderita/

GAKY, Penyakit penyebab retardasi mental

GAKY, Penyakit Penyebab Retardasi Mental
Gizi.net - Pertemuan ilmiah nasional “Gangguan Akibat Kekurangan Yodium” (GAKY) 2001 tanggal 4-5 November 2001 berlangsung di Semarang. GAKY merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan retardasi mental, namun sebelumnya sangat mudah dicegah. Penyakit ini bisa disebut defisiensi yodium atau kekurangan yodium. Penyakit ini sangat sedikit diketahui oleh masyarakat dan mungkin masih merupakan problem yang ditelantarkan. Saat ini diperkirakan 1,6 miliar penduduk dunia mempunyai risiko kekurangan yodium, dan 300 juta menderita gangguan mental akibat kekurangan yodium. Kira-kira 30.000 bayi lahir mati setiap tahun, dan lebih dari 120.000 bayi kretin, yakni retardasi mental, tubuh pendek, bisu tuli atau lumpuh.

Sebagian besar dari mereka mempunyai IQ sepuluh poin di bawah potensinya. Di antara mereka yang lahir normal, dengan konsumsi diet rendah yodium akan menjadi anak yang kurang intelegensinya, bodoh, lesu dan apatis dalam kehidupannya. Sehingga, kekurangan yodium akan menyebabkan masyarakat miskin dan tidak berkembang, sementara pada anak menyebabkan kesulitan belajar.

Risiko itu karena kekurangan yodium dalam dietnya, dan berpengaruh pada awal perkembangan otaknya. Yodium merupakan elemen yang sangat penting untuk pembentukan hormon tiroid.

Hormon itu sangat diperlukan untuk pertumbuhan normal, perkembangan mental dan fisik, baik pada manusia maupun hewan.

Efek yang sangat dikenal orang akibat kekurangan yodium adalah gondok, yakni pembesaran kelenjar tiroid di daerah leher.

Di Indonesia telah diadakan penelitian pada anak sekolah dasar antara tahun 1980-1982 di 26 provinsi, didapatkan prevalensi goiter lebih dari 10% pada 68,3% dari 966 kecamatan yang diperiksa, dan di beberapa desa lebih dari 80% penduduknya dengan gondok.

Pada tahun 1998 dilakukan pemeriksaan terhadap 46.000 anak sekolah dari 878 kecamatan yang telah diseleksi pada tahun 1980-1982, dibandingkan data terdahulu prevalensi gondok yang terlihat (visible goiter prevalences) menurun sekitar 37,2 sampai 50%.

Tahun 1991, dilakukan survei di Indonesia bagian Timur (Maluku, Irian Jaya, NTT, Timor Timur) pada 29.202 anak sekolah dan 1749 ibu hamil, didapatkan gondok pada anak sekolah 12-13% dan ibu hamil 16-39%.

Kemudian pada tahun 1996, dilakukan survei di 6 propinsi, didapatkan gondok 3,1-5 %, di Maluku 33%.

Pada tahun 1998, mulai ada Thyro Mobile, yang memproses data ukuran kelenjar gondok dan kadar yodium dalam urin.

Berdasarkan data survei pada tahun 1980-1982, diperkirakan 75.000 menderita kretin, 3,5 juta orang dengan gangguan mental, bahkan di beberapa desa 10-15% menderita kretin.

Dari data hasil penelitian pada anak sekolah dasar, maka pengertian tentang kekurangan yodium sudah jauh dari hanya menyebabkan gondok saja. Yakni menyebabkan pada tumbuh kembang anak, termasuk perkembangan otaknya, sehingga istilahnya saat ini disebut sebagai “Gangguan Akibat Kekurangan Yodium” atau disingkat GAKY.

Ekologi Kekurangan Yodium
Sebagian besat yodium berada di samudra/lautan, karena yodium (melalui pencairan salju dan hujan) pada permukaan tanah, kemudian dibawa oleh angin, aliran sungai, dan banjir ke laut. Kondisi ini, terutama di daerah yang bergunung-gunung di seluruh dunia, walau dapat juga terjadi di lembah sungai.

Yodium yang berada di tanah dan lautan dalam bentuk yodida. Ion yodida dioksidasi oleh sinar matahari menjadi elemen yodium yang sangat mudah menguap, sehingga setiap tahun kira-kira 400.000 ton yodium hilang dari permukaan laut. Kadar yodium dalam air laut kira-kira 50 mikrogram/liter, di udara kira-kira 0,7 mikrogram/meter kubik.

Yodium yang berada dalam atmosfer akan kembali ke tanah melalui hujan, dengan kadar dalam rentang 1,8-8,5 mikrogram/liter. Siklus yodium tersebut terus berlangsung selama ini.

Kembalinya yodium ke tanah sangat lambat dan dalam jumlah sedikit dibandingkan saat lepasnya. Proses ini akan berulang terus menerus sehingga tanah yang kekurangan yodium tersebut akan terus berkurang kadar yodiumnya.

Disini tidak ada koreksi alamiah, dan defisiensi yodium akan menetap. Akibatnya, populasi populasi manusia dan hewan di daerah tersebut yang sepenuhnya tergantung pada makanan yang tumbuh di daerah tersebut akan menjadi kekurangan yodium.

Melihat hal tersebut maka sangat banyak populasi di Asia yang menderita kekurangan yodium berat karena mereka hidup dalam sistem mencari nafkah dengan bertani di daerah gunung atau lembah.

Kekurangan yodium akan menimpa populasi di daerah tersebut yang dalam makanannya tidak ada suplemennya yodium atau tidak ada penganekaragaman dalam makanannya dengan makanan dari daerah lain yang tidak kekurangan yodium.

Akibat Kekurangan Yodium
Istilah GAKY menggambarkan dimensi baru dari pengertian spektrum kekurangan yodium. Berakibat sangat luas dan buruk pada janin bayi baru lahir, anak dan remaja serta orang dewasa dalam populasi yang kekurangan yodium tersebut. Akibat hal itu dapat dikoreksi dengan pemberian yodium.

Kebutuhan Yodium
Kebutuhan yodium setiap hari di dalam makanan yang dianjurkan saat ini adalah :
50 mikrogram untuk bayi (12 bulan pertama)
90 mikrogram untuk anak (usia 2-6 tahun)
120 mikrogram untuk anak usia sekolah (usia 7-12 tahun)
150 mikrogram untuk dewasa (diatas usia 12 tahun)
200 mikrogram untuk ibu hamil dan meneteki.
Ada beberapa pendapat yang salah dan kenyataan yang berbeda. Pendapat yang salah, misalnya, garam beryodium dapat mengobati GAKY seperti kretin, namun kenyataan GAKY tidak dapat diobati kecuali hanya dicegah. Juga pendapat yang salah, bahwa mengkonsumsi yodium sangat berbahaya, kenyataannya mengkonsumsi yodium, melalui garam beryodium dalam jangka lama tidak berbahaya.

Pemecahan Masalah
Pemecahan masalah sebenarnya sangat sederhana, berikan satu sendok yodium pada setiap orang yang membutuhkan, dan terus menerus. Karena yodium tidak dapat disimpan oleh tubuh dalam waktu lama, dan hanya dibutuhkan dalam jumlah sedikit sehingga harus berlangsung terus menerus.

Pada daerah kekurangan yodium endemik akibat tanah dan hasil panen serta rumput untuk makanan ternak tidak cukup kandungan yodiumnya untuk dikonsumsi oleh penduduk setempat, maka suplementasi dan fortifikasi yodium yang diberikan terus menerus sangat tinggi angka keberhasilannya.

Yang paling sering digunakan untuk melawan GAKY adalah program garam beryodium dan suplementasi minyak beryodium.

Pilihan pertama tentunya dengan garam beryodium karena biayanya sangat murah, dan teknologinya mudah. Untuk suplementasi minyak beryodium, keuntungannya praktis, sebaiknya hanya untuk intervensi pada populasi yang berisiko, walaupun mudah pemakaiannya, namun memerlukan teknologi yang lebih ruwet.

Penyuluhan kesehatan secara berkala pada masyarakat perlu dilakukan, demikian juga perlu diberikan penjelasan pada pembuat keputusan, dan tentunya juga diberikan tambahan pengetahuan kepada tenaga kesehatan.

Selanjutnya yang penting juga adalah penelitian tentang GAKY dengan pendekatan multidisiplin, baik klinis, eksperimental maupun epidemiologi, untuk menemukan cara yang terjamin dan mudah penerapannya.

GAKY yang terlihat di masyarakat atau populasi, hanya sebagai puncak gunung es.

Di daerah endemik, gondoklah yang terlihat dari bagian puncak gunung es tersebut, namun efek dari kekurangan yodium yang utama yaitu kerusakan otak merupakan komponen yang tersembunyi dan tidak terlihat dalam tragedi ini.

Sehingga problem dari GAKY ini sebenarnya adalah pada perkembangan otak, tidak hanya pembesaran kelenjar tiroid atau gondok.

Dengan melihat besarnya populasi yang mempunyai risiko seperti diatas, pantas bila GAKY menjadi problem nasional maupun internasional.

Dengan diadakannya pertemuan ilmiah nasional GAKY 2001 yang tema “Perkembangan Mutakhir tentang Masalah GAKY dalam rangka Indonesia Sehat 2010” harapan kita tentunya dapat mendapatkan konsep, pemikiran serta semangat baru dalam menanggulangi GAKY.


Kekurangan Yodium pada Janin
Kekurangan yodium pada janin akibat Ibunya kekurangan yodium. Keadaan ini akan menyebabkan besarnya angka kejadian lahir mati, abortus, dan cacat bawaan, yang semuanya dapat dikurangi dengan pemberian yodium. Akibat lain yang lebih berat pada janin yang kekurangan yodium adalah kretin endemik.

Kretin endemik ada dua tipe, yang banyak didapatkan adalah tipe nervosa, ditandai dengan retardasi mental, bisu tuli, dan kelumpuhan spastik pada kedua tungkai. Sebaliknya yang agak jarang terjadi adalah tipe hipotiroidisme yang ditandai dengan kekurangan hormon tiroid dan kerdil.

Penelitian terakhir menunjukkan, transfer T4 dari ibu ke janin pada awal kehamilan sangat penting untuk perkembangan otak janin. Bilaman ibu kekurangan yodium sejak awal kehamilannya maka transfer T4 ke janin akan berkurang sebelum kelenjar tiroid janin berfungsi.

Jadi perkembangan otak janin sangat tergantung pada hormon tiroid ibu pada trisemester pertama kehamilan, bilamana ibu kekurangan yodium maka akan berakibat pada rendahnya kadar hormon tiroid pada ibu dan janin. Dalam trisemester kedua dan ketiga kehamilan, janin sudah dapat membuat hormon tiroid sendiri, namun karena kekurangan yodium dalam masa ini maka juga akan berakibat pada kurangnya pembentukan hormon tiroid, sehingga berakibat hipotiroidisme pada janin.

Kekurangan Yodium pada Saat Bayi Baru Lahir
Yang sangat penting diketahui pada saat ini, adalah fungsi tiroid pada bayi baru lahir berhubungan erat dengan keadaan otak pada saat bayi tersebut lahir. Pada bayi baru lahir, otak baru mencapai sepertiga, kemudian terus berkembang dengan cepat sampai usia dua tahun. Hormon tiroid pembentukannya sangat tergantung pada kecukupan yodium, dan hormon ini sangat penting untuk perkembangan otak normal.

Di negara sedang berkembang dengan kekurangan yodium berat, penemuan kasus ini dapat dilakukan dengan mengambil darah dari pembuluh darah balik talipusat segera setelah bayi baru lahir untuk pemeriksaan kadar hormon T4 dan TSH. Disebut hipotiroidisme neonatal, bila didapatkan kadar T4 kurang dari 3 mg/dl dan TSH lebih dari 50 mU/mL.

Pada daerah yang kekurangan yodium sangat berat, lebih dari 50% penduduk mempunyai kadar yodium urin kurang dari 25 mg per gram kreatinin, kejadian hiptiroidisme neonatal sekitar 75-115 per 1000 kelahiran. Yang sangat mencolok, pada daerah yang kekurangan yodium ringan, kejadian gondok sangat rendah dan tidak ada kretin, angka kejadian hipotiroidisme neonatal turun menjadi 6 per 1000 kelahiran.

Dari pengamatan ini disimpulkan, bila kekurangan yodium tidak dikoreksi maka hipotiroidisme akan menetap sejak bayi sampai masa anak. Ini berakibat pada retardasi perkembangan fisik dan mental, serta risiko kelainan mental sangat tinggi. Pada populasi di daerah kekurangan yodium berat ditandai dengan adanya penderita kretin yang sangat mencolok.

Kekurangan Yodium pada Masa Anak
Penelitian pada anak sekolah yang tinggal di daerah kekurangan yodium menunjukkan prestasi sekolah dan IQ kurang dibandingkan dengan kelompok umur yang sama yang berasal dari daerah yang berkecukupan yodium. Dari sini dapat disimpulkan kekurangan yodium mengakibatkan keterampilan kognitif rendah. Semua penelitian yang dikerjakan di daerah kekurangan yodium memperkuat adanya bukti kekurangan yodium dapat menyebabkan kelainan otak yang berdimensi luas.

Dalam penelitian tersebut juga dijelaskan, dengan pemberian
koreksi yodium akan memperbaiki prestasi belajar anak sekolah. Faktor penentu kadar T3 otak dan T3 kelenjar hipofisis adalah kadar T4 dalam serum, bukan kadar T3 serum, sebaliknya terjadi pada hati, ginjal dan otot. Kadar T3 otak yang rendah, yang dapat dibuktikan pada tikus yang kekurangan yodium, didapatkan kadar T4 serum yang rendah, akan menjadi normal kembali bila dilakukan koreksi terhadap kekurangan yodiumnya.

Keadaan ini disebut sebagai hipotiroidisme otak, yang akan menyebabkan bodoh dan lesu, hal ini merupakan tanda hipotiroidisme pada anak dan dewasa. Keadaan lesu ini dapat kembali normal bila diberikan koreksi yodium, namun lain halnya bila keadaan yang terjadi di otak. Ini terjadi pada janin dan bayi yang otaknya masih dalam masa perkembangan, walaupun diberikan koreksi yodium otak tetap tidak dapat kembali normal.

Kekurangan Yodium pada Masa Dewasa
Pada orang dewasa, dapat terjadi gondok dengan segala komplikasinya, yang sering terjadi adalah hipotiroidisme, bodoh, dan hipertiroidisme. Karena adanya benjolan/modul pada kelenjar tiroid yang berfungsi autonom. Disamping efek tersebut, peningkatan ambilan kelenjar tiroid yang disebabkan oleh kekurangan yodium meningkatkan risiko terjadinya kanker kelenjar tiroid bila terkena radiasi. (dr Rudy Susanto-35)

Sumber : Suara Merdeka, Senin, 5 November 2001

Istilah Retardasi Mental

Tunagrahita adalah keadaaan keterbelakangan metal, keadaan ini dikenal juga retardasi mental (mental retardation). Tunagrahita sering disepadankan dengan istilah-istilah, sebagai berikut:

1. Lemah pikiran (Feeble Minded)
2. Terbelakang mental (Mentally Retarded)
3. Bodoh atau dungu (Idiot)
4. Pandir (Imbecile)
5. Tolol (Moron)
6. Oligofrenia (Oligophrenia)
7. Mampu Didik (Educable)
8. Mampu Latih (Trainable)
9. Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau Butuh Rawat
10. Mental Subnormal
11. Defisit Mental
12. Defisit Kognitif
13. Cacat Mental
14. Defisiensi Mental
15. Gangguan Intelektual


http://id.wikipedia.org/wiki/Tunagrahita

Pengertian Retardasi Mental

1. Pengertian
Grahita dalam bahasa Jawa berarti pikir atau memahami, jadi Tuna Grahita adalah ketidakmampuan dalam berpikir. Pengertian cacat mental atau mental retardation ( MR ) pada mulanya memang mengacu pada aspek kognitif saja ( ketidakmampuan dalam berpikir ), tetapi ternyata aspek kognitif yang rendah ini juga akan berpengaruh dalam fungsi-fungsi psikologi yang lain. Barometer international tentang cacat mental dapat kita lihat dalam AAMD ( American Association on Mental Deficiency ). Di Indonesia seperti AAMD memang belum ada, tetapi ada beberapa patokan khusus yang dapat kita gunakan dalam PPDGJ III ( Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III ).

Sumber: Suryabrata, S. 1995. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Raja Grafindo Persada.
Walgito, B. 1993. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset.